Hosting Gratis
Fanspage Twitter Redaksi Kontak
Selasa, 11 Juni 2013
BUNGA BERBULU SERANGGA

BUNGA BERBULU SERANGGA

Syarat pertama pembentukan benih dari suatu tumbuhan adalah penyatuan sel betina dan sel jantan pada bunga. Seringkali peristiwa penyerbukan ini melibatkan sel betina dari satu tumbuhan dengan serbuk sari dari tumbuhan lain. Tetapi ada satu permasalahan: tumbuhan tidak dapat berpindah tempat. Untuk itulah Allah menciptakan cara ajaib bagi serbuk sari dari satu tumbuhan untuk dipertemukan dengan sel betina dari tumbuhan lain. Sebagaimana akan segera kita pahami, sebutir serbuk sari yang tak lebih besar dari setitik debu mempunyai rancangan mengagumkan dengan kerumitan luar biasa. Allah telah menciptakan jutaan tumbuhan berbeda dan jutaan butir serbuk sari yang diperlukan tumbuhan ini.

Sebagian besar serbuk sari terbawa oleh angin. Butiran kecil ini adalah pemicu alergi yang banyak menjangkiti orang di musim semi. Ketika mencapai organ tumbuhan lain di mana sel telur berada, serbuk sari akan membuahi sel telur.
Tumbuhan lain menggunakan binatang sebagai kurir pengangkut serbuk sarinya. Kurir yang paling sering dipakai tumbuhan adalah serangga. Karena warna, bau harum dan madu bunga - atau nektar - yang Allah berikan, bunga mampu memikat serangga. Ketika mengamati dengan seksama hubungan antara bunga dan serangga, kita saksikan keserasian pada penciptaan makhluk hidup ini. Tentu saja, desain luar biasa serbuk sari dan tumbuhan tidak dirancang sendiri oleh tumbuhan. Cara mengagumkan yang digunakan untuk menyebarkan serbuk sari hanyalah satu dari contoh tak terhitung penciptaan sempurna oleh Allah.
Helikopter berbelalai panjang


Serangga khusus mirip lalat ini adalah sejenis serangga berbelalai yang mampu terbang mengambang di udara, dengan kata lain dalam posisi tetap. Belalai ini tidak lain adalah sebuah pipa penyedot panjang yang memungkinkannya mencapai bagian terdalam dari bunga tersebut. Ia harus mendarat di atas bunga secara tegak lurus agar pipa penyedotnya tidak tertekuk, dan mampu memasukkan pipa ini ke dalam tabung bunga tersebut.Untuk mencapai nektar dan serbuk sari dari sejenis bunga iris yang tumbuh di Afrika Selatan sangatlah sulit. Ini karena adanya satu tabung panjang di bawah dedaunannya. Nektar dan serbuk sari berada di dasar tabung ini. Untuk mencapai keduanya, diperlukan satu pipa penyedot panjang. Sebuah mesin terbang juga diperlukan untuk menjaga agar pipa tersebut tetap tergantung di udara. Allah, pencipta bunga ini dengan seni dan keindahan yang tiada banding, juga mencipta sistem yang diperlukannya untuk berkembang biak. Dengan kata lain, terdapat serangga khusus yang mampu meraih nektar dan serbuk sari yang sekilas tampak mustahil dijangkau ini.

Serangga ini juga dilengkapi sistem terbang yang ia perlukan. Dengan perangkat penerbangan ini, ia dapat terus melayang di udara seperti helikopter. Selain itu, agar dapat mendarat dengan aman, sebuah helikopter perlu tanda pemandu pada landasan mendaratnya (helipad). Dan ajaibnya, tanda pemandu ini terdapat pada permukaan bunga Iris berupa sejumlah tanda berbentuk panah-panah putih pada kelopak bunganya. Kesemua tanda panah ini menunjuk ke satu titik, yakni ke arah mulut tabung tersebut. Dengan demikian serangga dapat memasukkan pipa penyedotnya tanpa tertekuk sembari mendarat dengan aman di atas permukaan bunga pada titik yang tepat.
Ini jelaslah sebuah keajaiban. Bunga adalah tumbuhan tanpa kesadaraan yang tak bermata, tanpa tangan dan tak punya otak untuk berpikir. Meski demikian, ia mempunyai tanda untuk memandu serangga, layaknya tanda yang ada pada landasan pendaratan helikopter. Seekor serangga juga makhluk yang tak bernalar. Namun ia juga memiliki semua rancangan teknik seperti pipa penyedot panjang dan sistem penerbangan mirip helikopter, yang diperlukan untuk mencapai nektar dan serbuk sari. Jelaslah, kecerdasan yang menghasilkan keserasian tanpa cela ini tidaklah berasal dari serangga atau tumbuhan itu sendiri. Tidak pula kehebatan makhluk hidup ini berasal dari manusia, yang tak pernah mampu meciptakan desain secanggih ini. Semua hal ini hanya mungkin terjadi karena keberadaan Pencipta kedua makhluk tersebut, Pemilik ilmu dan kekuasaan yang sempurna tanpa tara. Dialah Allah yang Agung, yang mengetahui semua sifat yang dimiliki setiap makhluk hidup dan mencipta mereka dari ketiadaan agar serasi satu sama lain. Sebagaimana dipaparkan dalam salah satu ayat Al Qur'an:
Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semua hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar Ruum, 30:26)
Anggrek berbulu serangga

Namun ini bukanlah seluruh keajaibannya. Lebah betina mengeluarkan zat kimia khusus untuk memikat lebah jantan. Sangat mengherankan bahwa anggrek Cyprus juga menghasilkan zat kimia yang sama untuk memikat lebah jantan. Lebah jantan yang terpikat pun mendekat dan bersinggungan dengan bunga anggrek Cyprus yang mirip lebah betina tersebut. Akibatnya, serbuk sari sang anggrek menempel pada tubuhnya. Lebah jantan membawa serbuk sari ini ketika mengunjungi anggrek yang lain, dan anggrek lain tersebut dibuahi oleh serbuk sari ini.Rancangan anggrek Cyprus adalah keajaiban penciptaan yang lain. Rancangan bunganya memiliki bentuk berupa tiruan lebah betina, termasuk dalam hal ukurannya. Selain berbentuk sayap berwarna biru, rancangan anggrek ini memiliki bagian menyerupai bulu pada tubuh lebah betina. Di bawah sinar mentari, sayap lebah betina mejadi berwarna biru. Dan sama seperti pada anggrek Cyprus, tubuhnya juga diliputi bulu-bulu. Anggrek ini menyerupai lebah betina secara sempurna.


Di sini kita melihat satu lagi keajaiban penciptaan. Anggrek adalah tumbuhan. Anggrek tidak mempunyai mata untuk melihat dunia luar dan tidak memiliki otak untuk mencerna apa yang dilihatnya. Kenyataan bahwa satu tumbuhan dapat menyerupai makhluk hidup yang tak pernah ia lihat dan ia ketahui, dari sayap hingga bulunya, dan dari warna hingga baunya, adalah bukti bahwa Allah-lah yang menciptakan anggrek dan lebah sekaligus.

Read More
Senin, 10 Juni 2013
AL ‘ADL, MAHA ADIL

AL ‘ADL, MAHA ADIL


Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maa-idah, 5:8)
Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan di antara para hamba-Nya, di dunia dan di akhirat.
Allah, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Melihat, mengatur seluruh alam semesta dengan kebijaksanaan dan keadilan mutlak. Seluruh amal manusia sepanjang hidupnya akan ditimbang dalam neraca Kemahaadilan Allah. Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa pelaku kejahatan takkan lolos tanpa hukuman atas dosa mereka, sebaliknya perkataan baik walau hanya sepatah akan diberi pahala:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah, 99:7-8)
Kebaikan dan keburukan tidaklah sama di mata Allah, dan Dia berkuasa atas keduanya dengan keadilan mutlak. Tempat di mana keadilan mutlak Allah dapat disaksikan dengan jelas adalah akhirat. Allah pasti tidak pernah lupa tentang sesuatu pun, Dia-lah yang Maha Menepati janji. Setiap manusia, tanpa kecuali, akan mendapatkan balasan di akhirat atas segala perbuatannya di dunia. Mereka yang melakukan kejahatan akan dihukum, dan mereka yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan menerima pahala terbaik dari-Nya.
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi'aat, 79:37-41)

sumber : majalah insight

Read More
Selasa, 04 Juni 2013
Tragedi di Balik Laut Mati

Tragedi di Balik Laut Mati

Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka)… (QS. Al Qamar, 54:33-34)
Wilayah Anatolia, dataran Mesopotamia, semenanjung Arabia dan benua Afrika telah menjadi saksi lahirnya beragam peradaban besar sejak dahulu kala. Sepanjang sejarah, Allah mengutus para Rasul untuk menyeru mereka mengikuti jalan-Nya. Kaum yang mengingkari para utusan tersebut, yang mencoba membunuh dan mengusir mereka, semuanya telah dihancurkan…
Salah satu peradaban ini ditemukan dalam wilayah batas negara Israel saat ini. Penduduk yang menetap di pesisir Laut Mati ini adalah kaum Luth. Al Qur’an mengabarkan bahwa hubungan kelamin sesama jenis sedemikian merajalela di kalangan mereka hingga belum pernah dijumpai hal serupa sebelumnya:

Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Asy Syu’araa’, 26:161-166)
Ketika Nabi Luth menyuruh mereka meninggalkan perilaku maksiat dan menyampaikan perintah Allah, mereka ingkar, dan menolaknya sebagai seorang Nabi dan melanjutkan perilaku menyimpang mereka. Sebagai balasannya, mereka dihancurkan dengan bencana mengenaskan.
Ketika membaca Perjanjian Lama, kitab suci umat Nasrani dan Yahudi, akan kita ketahui bahwa hal ini dilukiskan dengan istilah yang sama sebagaimana dalam Al Qur’an. Menurut Perjanjian Lama, tempat tinggal kaum berperilaku menyimpang ini adalah kota Sodom. Temuan purbakala hasil penggalian mengungkapkan, kota tersebut dibangun dekat Laut Mati, di sepanjang perbatasan Israel dan Yordania. Para arkeolog yang bekerja di wilayah tersebut menemukan bukti telah tejadinya bencana mengerikan. Kerusakan parah pada rangka manusia yang berhasil digali menandakan telah terjadinya gempa bumi dahsyat.
Al Qur’an meriwayatkan bahwa malaikat datang kepada Nabi Luth dan memperingatkan hal ini di malam sebelum terjadinya bencana:
Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?" Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi; yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Huud, 11:81-83)
Ungkapan"Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah" dalam segala kemungkinannya bermakna daerah tersebut hancur oleh gempa bumi dashyat. Menurut siaran BBC berjudul " Ilmuwan MengungkapTamatnya Riwayat Kota Sodom ", geolog asal Inggris, Graham Harris, termasuk ilmuwan yang menemukan bukti meyakinkan tentang hal ini. Menurutnya, Sodom dibangun di pesisir Laut Mati dan penduduknya berdagang aspal yang tersedia di wilayah tersebut. Zat hitam lengket ini di masa lalu digunakan sebagai pelapis tahan air pada perahu dan perekat bebatuan pada bangunan.
Daerah pemukiman yang tepat di pesisir Laut Mati ini, juga berdiri di atas dataran yang mudah guncang. Ini adalah titik bertemunya 2 lempengan tektonik yang bergerak berlawanan arah. Ini adalah zona gempa bumi! Lapisan lahar dan batu basal yang ditemukan selama penggalian adalah bukti terkuat telah terjadinya letusan gunung berapi dan gempa bumi di sini. Peristiwa yang digambarkan Al Qur’an dengan kalimat "Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi" besar kemungkinannya sebagai letusan gunung berapi. Peristiwa tersebut dilukiskan oleh ayat yang sama dalam kalimat "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah" sangat mungkin merujuk pada pecahan dan penghancuran akibat gempa bumi.
Di bawah pesisir Laut Mati terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana mudah terbakar. Gempa bumi pastilah telah mengguncangnya dan menjadikannya terbakar. Permukaan tanah lalu berubah menjadi pasir hanyut, dan longsor besar menenggelamkan kota tersebut ke dalam air.

Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, dan mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk dan 
terkubur di dalamnya. Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting: kaum Luth yang disebutkan Al Qur’an memang pernah hidup di masa lalu, dan diazab oleh bencana kiriman Allah akibat penyimpangannya. Semua bukti terjadinya bencana itu kini telah terungkap, dan sesuai benar dengan pemaparan Al Qur’an.

Begitulah, Letusan Dahsyat membinasakan mereka saat fajar tiba:
Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al Hijr, 15:73-75)
sumber : majalah insight

Read More
Jumat, 31 Mei 2013
Nenek Moyang dari Bumi Purba

Nenek Moyang dari Bumi Purba

Evolusionis pertama yang meneliti asal usul kehidupan di abad kedua puluh adalah pakar biologi Rusia, Alexander Oparin. Ia bertujuan menjelaskan bagaimana makhluk bersel satu paling pertama, yang menurut teori evolusi dianggap sebagai nenek moyang semua makhluk hidup, dapat terbentuk.
Pada tahun 1930-an, Oparin merumuskan sejumlah teori untuk menerangkan bagaimana sel paling pertama dapat muncul dari benda tak hidup melalui peristiwa alamiah tanpa sengaja, atau secara kebetulan. Namun, usahanya berakhir dengan kegagalan dan Oparin sendiri harus mengakui:
Sayangnya, asal-usul sel masih merupakan pertanyaan yang ternyata menjadi bagian paling gelap dari keseluruhan teori evolusi. (Alexander I. Oparin, Origin of Life, (1936) NewYork: Dover Publications, 1953 (Reprint), hlm.196.)
Para evolusionis setelah Oparin melakukan percobaan untuk menemukan penjelasan evolusionis tentang asal-usul kehidupan. Yang terkenal di antaranya dilakukan oleh ahli kimia Amerika, Stanley Miller, pada tahun 1953. Miller berhasil mendapatkan sedikit senyawa organik sederhana dengan mereaksikan gas-gas yang ia yakini terdapat pada atmosfer bumi purba.
Waktu itu, percobaan ini dianggap sebagai bukti ilmiah yang mendukung evolusi. Di kemudian hari, hal ini terbukti tidak benar. Penemuan berikutnya menunjukkan bahwa gas-gas yang digunakan dalam percobaan tersebut sangat berbeda dengan gas-gas pada atmosfer bumi purba. Miller sendiri akhirnya mengakui ketidakabsahan percobaannya.
Segala upaya evolusionis di abad kedua puluh untuk menjelaskan asal-usul kehidupan telah berakhir dengan kegagalan. Jeffrey Bada, profesor geokimia dan pendukung utama teori evolusi, mengakui kenyataan ini dalam majalah Earth edisi Februari 1998, yang termasuk di antara terbitan evolusionis terkemuka:
Kini saat kita meninggalkan abad kedua puluh, kita masih menghadapi masalah terbesar yang tidak terpecahkan yang kita punyai saat kita memasuki abad ke dua puluh: “Bagaimana kehidupan muncul pertama kali di bumi?” (Jeffrey Bada, “Origins”, Earth, February 1998, hlm. 40)
Penghalang terbesar bagi teori evolusi adalah struktur teramat kompleks pada sel hidup. Setiap makhluk hidup di bumi tersusun atas sel-sel berukuran sekitar seperseratus milimeter. Sejumlah makhluk hidup bahkan hanya terdiri atas satu sel. Namun organisme bersel satu ini pun memiliki susunan teramat kompleks. Mereka memiliki sistem sangat rumit agar tetap hidup, bahkan mesin pendorong kecil untuk bergerak.
Di masa Darwin, struktur kompleks sel belumlah diketahui. Dengan mikroskop sederhana waktu itu, sel terlihat menyerupai bercak-bercak kecil sederhana. Namun, mikroskop elektron canggih yang ditemukan sekitar pertengahan abad kedua puluh mengungkapkan betapa kompleks dan rapinya sebuah sel sesungguhnya. Mereka telah membuka tabir sebuah kerumitan dan keteraturan yang tidak mungkin dihasilkan oleh peristiwa kebetulan belaka.
Satu sel hidup terdiri dari ribuan bagian kecil yang bekerja secara serasi. Sekedar gambaran, dalam sel terdapat pusat pembangkit tenaga, pabrik canggih, bank data kompleks, sistem penyimpanan raksasa, pusat pengolahan modern, dan membran sel yang seolah dengan sadar mengatur apa saja yang keluar dan masuk sel. Agar sel tetap hidup, semua bagian ini harus ada pada saat bersamaan. Mustahil sistem rumit dan kompleks semacam ini dapat muncul sebagai hasil kebetulan.
Saat ini, laboratorium tercanggih sekalipun tidak mampu membuat satu sel hidup dari materi tak hidup. Hal ini benar-benar telah diakui sebagai kemustahilan; dan upaya untuk membuat sel-sel hidup dari materi tak hidup telah ditinggalkan.
Namun teori evolusi menklaim bahwa sistem ini, yang manusia dengan segala kecerdasan, ilmu, dan teknologinya tidak berhasil menirunya, muncul menjadi ada secara kebetulan. Sir Fred Hoyle, pakar matematika dan astronomi Inggris terkemuka, memaparkan kemustahilan ini dengan sebuah contoh:

Kemungkinan terbentuknya kehidupan tingkat tinggi secara kebetulan dapat disamakan dengan kemungkinan angin tornado yang ketika melintasi tempat pembuangan barang bekas, merakit pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada.( "Hoyle on Evolution", Nature, Vol 294, November 12, 1981, hlm. 105.)

Read More
Kamis, 30 Mei 2013
Si Jago Minum dari Padang Pasir

Si Jago Minum dari Padang Pasir


Adik-adik, tahukah kalian bahwa Allah telah menciptakan binatang istimewa yang hidup di padang pasir untuk melayani manusia yang ada di sana? Dialah unta, hewan yang sangat ajaib. Tidak heran jika Allah menyeru kita agar memperhatikan penciptaan unta dalam ayat berikut:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan.” (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)
Jika kalian amati unta dengan baik, akan kalian saksikan bahwa setiap bagian tubuhnya adalah keajaiban penciptaan.
Unta dapat bertahan hidup hingga 8 hari pada suhu 50OC tanpa makan dan minum. Ketika menemukan sumber air, unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu 10 menit. Ini berarti 130 liter dalam sekali minum. Jika dalam sehari kalian mampu meneguk 10 gelas air minum, misalnya, maka unta dapat meminum sekitar 120 gelas air dalam waktu 10 menit. Air ini disimpan dalam bentuk lemak pada punuk unta. 
Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun pencernaan unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulutnya telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah. Perutnya juga memiliki desain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan gurun pasir.
Allah juga telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga mampu bertahan terhadap badai pasir yang menyesakkan nafas dan membutakan mata. Kelopak mata unta melindungi matanya dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga tembus cahaya sehingga unta tetap dapat melihat meskipun matanya tertutup. Bulu mata yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam matanya. Hidung unta juga memiliki bentuk khusus sehingga dapat menutup ketika badai pasir menerpa.
Unta takkan terperosok ke dalam pasir gurun sekalipun membawa muatan seberat ratusan kilogram. Ini karena kakinya telah diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi oleh rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian.

sumber : majalah insight

Read More
Rabu, 29 Mei 2013
PUSAT PENGENDALI SUPERCANGGIH

PUSAT PENGENDALI SUPERCANGGIH


Otak manusia memiliki sistem yang mampu menjalankan sejumlah tugas sekaligus pada saat bersamaan. Misalnya, dengan struktur otaknya yang sempurna, seseorang yang sedang mengendarai mobil dapat sekaligus menyetel radio mobilnya dan membelokkan setir dengan mudah. Walaupun sedang melakukan beragam hal secara bersamaan, dia tidak menabrak mobil atau orang lain. Selain itu, dia dapat mengoperasikan pedal gas dengan kakinya. Dia dapat memahami berita yang didengarnya dari radio. Dia dapat menyambung kembali pembicaraannya dari tempat percakapan itu terhenti. Dan, yang terpenting, dia dapat mengarahkan semua hal ini secara sempurna, pada waktu yang bersamaan. Singkatnya, dengan bantuan kemampuan luar biasa otak, seseorang dapat menangani berbagai pekerjaan sekaligus. Keselarasan ini dimungkinkan terjadi oleh adanya sambungan antar sel saraf di dalam otak.
Jutaan, bahkan miliaran rangsangan yang sampai ke otak dari dunia luar diterima dan diuraikan di dalam otak dengan serasi, lalu diperiksa dan dinilai. Otak lalu memberi tanggapan yang diperlukan kepada setiap sumber rangsangan. Operasi sistem yang rumit ini terus berfungsi dalam kehidupan seseorang tanpa henti. Keberadaan semua proses inilah yang menjadikan kita mampu melihat, mendengar, serta merasakan; dan kehidupan kita pun terus berlangsung.
Salah satu unsur terpenting penyusun sistem sempurna di dalam otak adalah sel-sel saraf, yang berjumlah hampir mendekati angka 10 miliar. Sel-sel saraf otak, tidak seperti sel-sel lainnya, mengirimkan dan mengolah informasi dengan cara membangkitkan dan mengalirkan aliran listrik lemah.
Apakah yang menyebabkan terjadinya hubungan di antara sel-sel dan menghasilkan keselarasan di dalam otak? Jawabannya terletak pada struktur istimewa sel saraf. Sekitar 10 miliar sel di dalam otak memiliki sekitar 120 triliun sambungan. Dan 120 triliun sambungan ini benar-benar berada di posisi yang tepat. Bila terdapat kesalahan pada salah satu saja dari sambungan ini, akibatnya akan sangat berat. Seseorang yang mengalami hal ini takkan mungkin menjalankan kehidupannya dengan baik. Namun hal seperti ini tidak terjadi, dan manusia sehat menjalani kehidupannya secara normal. Ia menjalani kehidupan dengan sebaik-sebaiknya sementara triliunan proses ajaib yang tidak disadarinya sedang berlangsung di dalam otaknya.
Struktur yang bekerja secara mandiri di dalam otak ini, sebagaimana halnya sistem-sistem lain di dalam tubuh manusia, memiliki rancangan sempurna di setiap tahapannya. Kenyataan bahwa otak dapat menjalankan berjuta fungsinya tanpa kesalahan atau kerancuan menjadi bukti bahwa Allah, Pemilik Ilmu tak terbatas, telah menciptakannya beserta semua cirinya yang istimewa.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Adz Dzaariyaat, 51:20-21)
sumber : majalah insight


Read More
Selasa, 28 Mei 2013
Intelligent Design (2)

Intelligent Design (2)


Kini dunia ilmu pengetahuan sangat tercengang oleh kenyataan ini. Ketika alam diteliti, maka yang muncul adalah adanya perencanaan dan perancangan besar di setiap bagian-bagian terkecilnya. Hal ini telah meruntuhkan landasan berpijak filsafat materialis. Misalnya, struktur luar biasa DNA mengungkap kepada para ilmuwan bahwa DNA bukanlah hasil peristiwa tak disengaja. DNA dalam satu sel manusia berisi informasi yang cukup untuk memenuhi seluruh ensiklopedia yang terdiri atas 900 jilid. Gene Myers, seorang ilmuwan dari perusahan Celera yang menangani Human Genome Project (Proyek Genome Manusia), menyatakan berikut ini:
Apa yang sungguh mengejutkan saya adalah arsitektur kehidupan... Sistemnya sungguh luar biasa kompleks. Seolah ini telah dirancang... Terdapat kecerdasan mahahebat di sana. (San Francisco Chronicle, 19 February 2001)

Keterkejutan ini mengguncang seluruh dunia ilmu pengetahuan. Para ilmuwan memandang dengan takjub ketidakabsahan filsafat materialis dan Darwinisme yang dulunya diajarkan kepada mereka sebagai suatu kebenaran. Sebagian mereka bahkan menyatakannya secara terbuka. Dalam bukunya Darwin’s Black Box, salah seorang dari para tokoh ini, Profesor Biokimia asal Amerika, Michael Behe, menjelaskan keadaan dunia ilmu pengetahuan sebagaimana berikut:

Selama empat puluh tahun terakhir, biokimia modern telah menyingkap rahasia sel. Kemajuan ini dicapai dengan susah payah. Diperlukan puluhan ribu orang yang membaktikan sebagian besar masa hidupnya untuk pekerjaan laboratorium yang membosankan.... Hasil kerja keras kumulatif untuk meneliti kehidupan di tingkat molekuler ini adalah teriakan yang lantang, jelas, dan nyaring: “desain!”. Hasil ini demikian jelas dan penting sehingga patut digolongkan sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan...Namun, tidak ada sambutan meriah, tidak ada tangan yang bertepuk. Mengapa masyarakat ilmiah tidak menyambut penemuan mengejutkan ini dengan penuh kegirangan? Yang menjadi masalah adalah ketika salah satu sisi penemuan ini diberi nama desain cerdas, maka sisi yang lain haruslah diberi nama TUHAN. (Michael J.Behe, Darwin's Black Box, New York: Free Press, 1996, hlm. 231-232)


Hal yang sama terjadi di bidang astronomi. Astronomi abad ke-20 telah menghancurkan teori-teori materialis abad ke-19. Pertama-tama, dengan dibuktikannya Big Bang, terungkap bahwa jagat raya memiliki awal, yakni saat Penciptaannya. Sejak itu, disadari bahwa di jagat raya terdapat keseimbangan yang luar biasa cermat dan peka yang melindungi kehidupan manusia.
Karena alasan ini, di dunia fisika dan astronomi, atheisme mengalami kemunduran pesat. Sebagaimana fisikawan Amerika, Robert Griffiths, yang berkata sambil bergurau:
Jika kami memerlukan seorang atheis untuk berdebat, Saya akan pergi ke jurusan filsafat. Jurusan fisika tidak begitu ada gunanya. (Hugh Ross, The Creator and the Cosmos, hlm. 123)
Singkatnya, di saat dan di masa kita, filsafat materialis tengah mengalami keruntuhan. Ilmu pengetahuan menemukan kembali fakta-fakta sangat penting dan pasti yang diingkari filsafat materialis, dan dengan demikian konsep ilmu pengetahuan yang baru tengah dilahirkan. Teori “Intelligent Design” (Perancangan Cerdas) yang mengalami kemajuan pesat di Amerika Serikat selama 10 tahun terakhir berada di barisan terdepan dari gagasan ilmu pengetahuan yang baru ini. Salah satu situs mereka adalah http://www.intelligentdesignnetwork.org. Mereka yang menerima teori ini mengatakan bahwa Darwinisme adalah kekeliruan terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan, dan bahwa terdapat perancangan cerdas di alam yang membuktikan adanya Penciptaan. Misalnya, mikrobiologiwan Australia, Michael Denton, menyatakan bahwa organ-organ rumit makhluk hidup tidak dapat dijelaskan melalui evolusi:
Inilah pertanyaan paling mendasar yang dihindari setiap orang, yang diabaikan, dan yang dicoba-sembunyikan setiap orang... Kenyataan sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan adaptasi kompleks di alam ini tidak dapat dijelaskan secara memuaskan dengan pembentukan melalui serangkaian bentuk-bentuk peralihan... Dan ini pada kenyataannya adalah suatu, sejauh yang saya pahami, masalah yang sangat mendasar. Faktanya adalah terdapat sedemikian banyak hal seperti ini... Bagi saya tidak menjadi soal, ada sesuatu yang salah dengan teori tersebut. Pikiran sehat memberitahu saya pastilah ada sesuatu yang salah...
Biologiwan terkenal Jerman, Werner Gitt, menjelaskan bagaimana informasi genetis pada makhluk hidup membuktikan Penciptaan dalam ungkapan berikut ini:
Mustahil jika informasi baru berasal dari suatu proses acak. Jika Anda melihat suatu program komputer, program ini memerlukan keberadaan seorang pembuat program. Jika Anda menyaksikan sebuah mobil, mobil tersebut memerlukan keberadaan perancangnya. Jika Anda melihat informasi biologis di dalam sel, maka Anda wajib berkata – sebuah kesimpulan yang benar – bahwa informasi ini memerlukan Pencipta yang telah menciptakan program berupa gen-gen, untuk menciptakan protein-protein, untuk menciptakan organ-organ. Adalah wajib bagi Anda berkesimpulan demikian. Jadi, dapat kita katakan bahwa evolusi adalah sebuah proses yang mustahil.
sumber : majalah insight

Read More
Intelligent Design (1)

Intelligent Design (1)


Abad ke-19 menyaksikan sebuah kekeliruan terbesar dalam sejarah umat manusia. Ini berawal dengan dikenalkannya filsafat materialis warisan Yunani kuno kepada pemikiran bangsa Eropa.
Kekeliruan ini adalah teori evolusi Darwin. Sebelum kemunculan Darwinisme, biologi diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan yang membuktikan keberadaan Tuhan. Dalam bukunya Natural Theology, biologiwan terkenal William Paley menyatakan, “...setiap jam menunjukkan keberadaan pembuat jam, rancangan di alam membuktikan keberadaan Tuhan.”
Tetapi, teori evolusi Darwin menolak kebenaran ini. Dengan memutarbalikkan kebenaran agar sesuai dengan filsafat materialis, ia menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup muncul akibat peristiwa alamiah biasa, tanpa ada unsur kesengajaan. Dengan kata lain, secara kebetulan. Dengan cara ini, ia memunculkan pemisahan semu antara agama dan ilmu pengetahuan.
Dalam buku The Messianic Legacy, para peneliti Inggris Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln berkata tentang hal ini:
Bagi Isaac Newton, satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan tidaklah terpisah dari agama, bahkan sebaliknya, menjadi bagian dari agama, dan pada akhirnya mengabdi kepadanya....Akan tetapi ilmu pengetahuan masa Darwin menjadi persis sedemikian itu, yakni memisahkan dirinya sendiri dari kerangka tempat dulunya ia berada, dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai pesaing mutlak, sebagai pemberi penjelasan tandingan. Alhasil, agama dan ilmu pengetahuan tak lagi bekerja seiring, tapi berdiri saling berhadap-hadapan, dan umat manusia semakin dipaksa untuk memilih di antara keduanya. (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, The Messianic Legacy, Gorgi Books, London:1991, hlm.177-178)
Tidak hanya biologi, cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti psikologi dan sosiologi pun dipaksakan agar sesuai dengan filsafat materialis. Astronomi dibelokkan mengikuti dogma materialis Yunani kuno. Tujuan baru ilmu pengetahuan adalah untuk mengukuhkan kebenaran filsafat materialis. Gagasan keliru ini telah menyeret dunia ilmu pengetahuan kepada kebuntuan selama 150 terakhir.
Puluhan ribu ilmuwan dari berbagai cabang ilmu bekerja dengan berpengharapan akan mampu membuktikan Darwinisme atau teori-teori materialis lainnya. Namun mereka kecewa. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan sesuatu yang malah bertentangan dengan kesimpulan yang ingin mereka capai. Dengan kata lain, bukti-bukti tersebut malah mengukuhkan kebenaran Penciptaan.
bersambung....
sumber : majalah Insight



Read More
Jumat, 24 Mei 2013
Mentari pun Bersinar di Barat

Mentari pun Bersinar di Barat

Eropa Abad pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis Gereja Katolik. Gereja melarang kebebasan berpikir dan mengekang para ilmuwan. Orang-orang dapat dihukum hanya karena menganut keyakinan atau pemikiran yang berbeda. Buku-buku karya mereka dibakar dan mereka sendiri dihukum mati.
Pengekangan terhadap kegiatan penelitian di Abad Pertengahan seringkali disinggung dalam buku-buku sejarah. Namun sebagian kalangan menafsirkan keadaan tersebut secara keliru dan menyatakan bahwa para ilmuwan yang berselisih dengan Gereja adalah penentang agama. Namun, yang sesungguhnya terjadi justru sebaliknya – para ilmuwan yang menentang fanatisme Gereja adalah kaum beriman yang taat beragama. Mereka tidak menentang agama akan tetapi menentang dogma Gereja. Misalnya, ahli astronomi terkenal Galileo, yang hendak dihukum oleh pihak gereja karena menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, mengatakan:

“Saya haturkan rasa syukur tak terkira kepada Tuhan yang begitu baiknya telah memilih saya sendiri sebagai yang pertama menyaksikan pemandangan menakjubkan yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan selama berabad-abad yang lalu.” (Galileo Galilei, dikutip dalam: Mike Wilson, “The Foolishness of the Cross,” Focus Magazine)
Para ilmuwan lain yang meletakkan landasan bagi bangunan ilmu pengetahuan modern, semuanya adalah orang taat beragama. Kepler, yang dianggap sebagai pendiri astronomi modern, berkata kepada mereka yang bertanya mengapa ia menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan:
“Saya memiliki niat menjadi seorang ahli teologi... namun dengan pekerjaan saya ini, kini saya menyaksikan bagaimana Tuhan juga diagungkan dalam astronomi, sebab ‘langit menyatakan keagungan Tuhan”’. (Johannes Kepler, dikutip dalam: J.H. Tiner, Johannes Kepler-Giant of Faith and Science (Milford, Michigan: Mott Media, 1977), hlm. 197)
Newton, salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah, menjelaskan alasan yang mendasari dorongan kuatnya dalam melakukan kegiatan ilmiah dengan mengatakan:
“... Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak terbatas, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; dengan kata lain, masa keberadaan-Nya dari kekekalan hingga kekekalan; keberadaan-Nya dari ketakberhinggaan hingga ketakberhinggaan, Dia mengatur segala sesuatu, dan mengetahui segala sesuatu yang diadakan atau dapat diadakan... Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu... [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...” (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Translated by Andrew Motte, Revised by Florian Cajore, Great Books of the Western World 34, Robert Maynard Hutchins, Editor in chief, William Benton, Chicago, 1952:273-74)
Von Helmont, salah seorang tokoh terkemuka di bidang kimia modern dan penemu termometer, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah bagian dari iman.
Sejumlah besar para ilmuwan lain yang mengendalikan sejarah ilmu pengetahuan adalah orang-orang taat beragama yang beriman kepada Tuhan, sebagian kecil di antara mereka adalah:
Leonardo da Vinci (1452-1519) (Seni, rekayasa, arsitektur), Georgius Agricola (1494-1555) (Mineralogi), Nicolas Steno (1631-1686) (Stratigrafi), Thomas Burnet (1635-1715) (Geologi), Increase Mather (1639-1723) (Astronomi), Nehemiah Grew (1641-1712) (Kedokteran), John Dalton (1766-1844) (Pendiri teori atom modern), Johann Gauss (1777-1855) (Geometri, geologi, magnetisme, astronomi), Benjamin Silliman (1779-1864) (Mineralogi), Peter Mark Roget (1779-1869) (Fisiologi), William Buckland (1784-1856) (Geologi), William Whewell (1794-1866) (Astronomi and Fisika), Richard Owen (1804-1892) (Zoologi, Paleontologi), Balfour Stewart (1828-1887) (Listrik Ionosfir), P.G.Tait (1831-1901) (Fisika, Matematika), Edward William Morley (1838-1923) Pemenang hadiah Nobel Fisika, Sir William Abney (1843-1920) (Astronomi), William Mitchell Ramsay (1851-1939) (Arkeologi), William Ramsay (1852-1916) (Kimia), Sir Cecil P. G. Wakeley (1892-1979) (Kedokteran), dan lain sebagainya.
Semua ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam semesta yang telah diciptakan-Nya. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi dan meneliti dengan pemahaman akan keberadaan dan kekuasaan Allah.

Lahirnya ilmu pengetahuan beserta perkembangannya adalah hasil dari pemahaman ini.
sumber : majalah insight

Read More
Kamis, 23 Mei 2013
Cahaya Penghancur Berhala

Cahaya Penghancur Berhala

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai mendakwahkan Islam, Arab adalah sebuah masyarakat jahiliyyah penganut takhayyul. Tapi, berkat cahaya Al Qur’an, mereka kemudian terbebaskan dari takhayyul dan mulai menggunakan akal mereka. Akibatnya, salah satu perkembangan mencengangkan dalam sejarah dunia pun terjadi. Dalam beberapa puluh tahun saja, Islam, yang muncul dari kota kecil bernama Madinah, tersebar dari Afrika hingga Asia Tengah.

Masyarakat Arab, yang dulunya tak mampu mengurus satu kota pun dengan rukun, menjadi penguasa imperium dunia. Dalam bukunya The Straight Path, pakar Islam asal Amerika, Profesor John Esposito, menjelaskan sisi menakjubkan tentang kemunculan Islam sebagaimana berikut:

Yang paling mencengangkan tentang perluasan wilayah kekuasaan Islam di masa awal adalah kecepatan dan keberhasilannya. Para pakar Barat merasa takjub akan hal ini… Dalam satu dasawarsa, pasukan Arab menaklukkan angkatan perang Bizantium dan Persia…dan menguasai Irak, Suriah, Palestina, Persia dan Mesir… Pasukan Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa yang berhasil, pembangun dan bukan perusak. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 33)

Ketika beragam bangsa, termasuk Turki, menerima Islam atas kehendak mereka sendiri, imperium Islam tumbuh semakin besar dan menjadi kekuatan terbesar di dunia pada masanya. Salah satu sisi terpenting imperium ini adalah terbukanya babak perkembangan ilmu pengetahuan yang tak tertandingi sebelumnya dalam sejarah.

Di masa ketika Eropa tengah mengalami Masa Kegelapan, dunia Islam telah membangun warisan terbesar ilmu pengetahuan yang pernah disaksikan sejarah hingga saat itu. Ilmu kedokteran, matematika, geometri, astronomi, dan bahkan sosiologi dikembangkan secara sistematis untuk kali pertama.

Sejumlah pengulas berusaha mengaitkan perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini dengan pengaruh Yunani Kuno. Namun, sumber sesungguhnya ilmu pengetahuan Islam adalah penelitian dan pengamatan para ilmuwan Muslim itu sendiri. Dalam bukunya The Middle East, Profesor Bernard Lewis, pakar sejarah Timur Tengah, menjelaskannya sebagai berikut:

Pencapaian ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan tidaklah terbatas pada pelestarian warisan keilmuwan Yunani, bukan pula penggabungan unsur-unsur warisan budaya Timur yang lebih tua dan lebih jauh kepada bangunan ilmu pengetahuan tersebut. Warisan ini, yang dilimpahkan para ilmuwan Islam abad pertengahan kepada dunia modern, sungguh sangat diperkaya oleh daya upaya dan sumbangsih mereka sendiri. Ilmu pengetahuan Yunani, secara keseluruhan, lebih cenderung bersifat teoritis. Ilmu pengetahuan Timur Tengah abad pertengahan lebih banyak bersifat praktis, dan dalam bidang-bidang seperti kedokteran, kimia, astronomi, dan agronomi, warisan masa lalu tersebut diperjelas dan diperkaya dengan penelitian dan pengamatan para ilmuwan Timur Tengah abad pertengahan. (Bernard Lewis, The Middle East, 1998, hlm. 266)

Rahasianya adalah disiplin ilmiah dan pola pikir yang diajarkan Al Qur’an kepada para ilmuwan Muslim. Baris-baris tulisan seorang ilmuwan Muslim masa itu dalam catatan hariannya dengan sangat jelas menunjukkan betapa gagasan ilmu pengetahuan berdasarkan Al Qur’an benar-benar diterapkan:

Kemudian, selama satu setengah tahun, saya mencurahkan hidup saya untuk belajar....Selama masa ini, saya tak pernah tidur semalaman penuh dan tak melakukan apa pun selain belajar seharian penuh. Kapan pun saya menemukan kesulitan... Saya akan pergi ke masjid, sholat, dan memohon kepada Pencipta Segala Sesuatu untuk menunjukkan kepada saya apa yang tersembunyi dari saya, dan menjadikannya mudah bagi saya sesuatu yang sebelumnya sulit. Lalu di malam hari saya akan kembali ke rumah, meletakkan pelita di depan saya, dan memulai membaca dan menulis... Saya terus melakukan ini hingga saya memiliki dasar yang kuat di seluruh cabang ilmu pengetahuan dan menguasainya sejauh mungkin. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 54)

Andalusia (sekarang Spanyol), tempat kebanyakan ilmuwan Muslim dilahirkan dan dibesarkan, menjadi pusat utama kemajuan dan perkembangan, khususnya di bidang kedokteran. Para dokter Muslim sangat ahli di berbagai bidang seperti farmakologi, ilmu bedah, optalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi, dan ilmu kesehatan. Mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang meletakkan landasan bagi ilmu pengetahuan modern. Sebagian kecil dari mereka adalah:

Ibn Juljul (Tanaman obat-obatan), Abu Ja'far Ibn al-Jazzar (Kedokteran), Abd al-Latif al-Baghdadi (Anatomi), Ibn Sina (Anatomi), Zakariya Qazwini (Jantung dan otak), Hamdullah al-Mustaufi al-Qazwini (Anatomi), Ibn al-Nafis (Anatomi), Ali bin Isa (Anatomi mata), Biruni (Astronomi), Ali Kushchu (Astronomi), Thabit ibn Qurrah (Matematika), Battani (Matematika), Ibn al-Haitsam (Optik), Al-Kindi (Fisika).

Budaya ilmiah yang maju di dunia Islam ini membuka jalan bagi abad Kebangkitan Barat. Para ilmuwan Muslim bertindak atas pemahaman bahwa penelitian mereka terhadap ciptaan Allah adalah jalan yang dengannya mereka dapat mengenal Allah. Dengan berpindahnya cara berpikir ini ke dunia Barat, kemajuan Barat pun dimulai.

sumber : majalah insight

Read More
Selasa, 21 Mei 2013
Tahukah anda tentang Unta ?

Tahukah anda tentang Unta ?


Empat belas abad silam Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Saat itu, masyarakat Arab benar-benar berada dalam kemunduran dan kekacauan. Namun, cahaya yang dibawa Al Qur’an dengan sangat luar biasa mampu merubahnya.

Arab pra-Islam adalah bangsa biadab penyembah berhala buatan mereka sendiri. Selain meyakini perang dan pertumpahan darah sebagai jalan kemuliaan, mereka pun tega membunuh anak sendiri. Namun, dengan Islam mereka belajar nilai kemanusian, rasa hormat, cinta kasih, keadilan dan peradaban. Bahkan tak hanya bangsa Arab, semua masyarakat yang menerima Islam keluar dari gelapnya zaman kebodohan (jahiliyah), dan tersinari hikmah Ilahiah yang dikandung Al Qur’an. Di antara pencerahan Al Qur’an kepada manusia adalah pola pikir ilmiah.

Dasar berpikir ilmiah adalah rasa keingintahuan. Karena bertanya-tanya tentang bagaimana jagat raya dan alam kehidupan bekerja, manusia menyelidiki dan menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan. Namun tidak banyak yang memiliki rasa ingin tahu ini. Bagi mereka, yang penting bukanlah rahasia alam semesta dan kehidupan, tapi keuntungan dan kenikmatan dunia yang sedikit.

Dalam masyarakat yang diperintah oleh para pemimpin yang berpola pikir demikan, ilmu pengetahuan 
tidak berkembang. Kejumudan dan kebodohan merajalela, sebagaimana yang membelenggu masyarakat Arab sebelum turunnya Al Qur’an. Namun ayat-ayat Al Qur’an menyeru mereka berpikir, meneliti, menggunakan akal mereka; sesuatu yang barangkali baru pertama mereka alami sepanjang hidup. Dalam salah satu ayat Al Qur’an yang diturunkan di masa awal, Allah mengarahkan perhatian masyarakat Arab kepada unta, hewan yang menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al Ghaasyiyah, 88:17)

1. KEPALA YANG TERLINDUNGI DARI PASIR:
• Bulu mata unta memiliki sistem berpautan. Tatkala ada bahaya, bulu-bulu mata ini secara otomatis menutup. Bulu-bulu mata yang berpautan ini mencegah masuknya butiran-butiran debu memasuki mata unta.
• Hidung dan telinga unta tertutupi oleh rambut-rambut panjang untuk melindunginya dari pasir dan debu.
• Leher yang panjang memungkinkan unta mencapai dan memakan dedaunan yang terletak beberapa meter di atas permukaan tanah.

2. KAKI YANG SESUAI UNTUK SEGALA JENIS DARATAN:
• Kaki unta terdiri dari jari-jemari yang tersambungkan dengan telapak yang lentur. Bentuk dan susunan ini, yang memungkinkannya menapak kokoh pada permukaan tanah, terdiri dari empat gumpalan berlemak. Ini benar-benar sesuai untuk segala jenis keadaan tanah.
• Kuku-kuku kaki unta melindungi kaki dari kerusakan yang mungkin terjadi akibat sandungan.
• Seluruh lutut unta tertutupi oleh risa (lapisan kulit tebal), yang tersusun atas kulit setebal dan sekeras tanduk. Ketika unta berbaring di atas permukaan pasir panas, lapisan kulit tebal ini melindunginya dari luka akibat permukaan tanah yang sangat panas. 
3. PUNUK SEBAGAI SIMPANAN CADANGAN MAKANAN
Punuk unta, yang berupa timbunan lemak, menyediakan zat makanan bagi unta secara berkala saat paceklik dan kelaparan. Dengan perangkat ini, unta mampu bertahan hidup hingga tiga minggu tanpa air, hingga kehilangan 33% bobot badannya. Pada keadaan yang sama, manusia akan kehilangan 8% berat tubuhnya dan mati dalam waktu 36 jam, tanpa sedikit pun air tersisa dalam tubuhnya.

4. WOL PELINDUNG PANAS DAN DINGIN:
• Wol ini terdiri dari rambut lebat dan bertautan yang tak hanya melindungi tubuh unta dari dingin yang membeku atau panas yang membakar, tetapi juga mencegah hilangnya air dari dalam tubuhnya. Unta Dromedary mampu memperlambat proses berkeringat dengan menaikkan suhu tubuhnya hingga 41oC. Hal ini mencegah kehilangan air.
• Dengan wolnya yang tebal, unta di Asia mampu bertahan hidup hingga suhu +50oC di musim panas dan hingga -50oC di musim dingin.


Di banyak ayat Al Qur’an lainnya, manusia diseru mengkaji alam dan belajar darinya, sebab manusia dapat mengenal Pencipta hanya dengan meneliti ciptaan-Nya. Karenanya, dalam sebuah ayat, kaum Muslimin disebut sebagai orang yang berpikir tentang penciptaan langit dan bumi: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran, 3:191)

Alhasil, bagi seorang Muslim, melakukan pengkajian ilmiah adalah sebentuk ibadah yang sangat penting. Di banyak ayat Al Qur’an, Allah menyeru kaum Muslimin untuk meneliti langit, bumi, makhluk hidup atau keberadaan diri mereka sendiri, dan memikirkannya. Ketika mengkaji ayat-ayat tersebut, akan kita temukan petunjuk tentang seluruh cabang utama ilmu pengetahuan dalam Al Qur’an. Misalnya, dalam Al Qur’an, Allah menganjurkan mempelajari ilmu astronomi sebagaimana berikut: 

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al Mulk, 67:3)

Di ayat lain, misalnya, Allah menyeru pengkajian terhadap ilmu astronomi dan geologi (QS. Qaaf, 50:6-8), botani (QS. Al An’aam, 6:99), zoologi (QS. An Nahl, 16:66), arkeologi dan antropologi (QS. Ar Ruum, 30:9), ilmu tentang manusia (QS. Adz Dzaariyaat, 51:20-21), dan lain sebagainya.

Demikianlah, dalam Al Qur’an Allah menyeru kaum Muslimin untuk mempelajari semua cabang ilmu pengetahuan. Tidak heran jika dalam sejarah, perkembangan Islam secara bersamaan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

Sumber : Majalah Insight

Read More
Senin, 20 Mei 2013
AL ‘ALIIM, MAHA MENGETAHUI

AL ‘ALIIM, MAHA MENGETAHUI


“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Faathir, 35:38)

Allah memiliki pengetahuan tentang langit dan bumi, seluruh makhluk hidup di antara keduanya. Dia mengetahui seluruh hukum yang mengatur alam semesta, dan seluruh peristiwa yang terjadi di seluruh waktu.  Sebab Allah-lah yang menciptakan mereka semua.
Di samping itu, tak ada yang membatasi pengetahuan Allah. Allah mengetahui jati diri setiap manusia yang lahir atau mati. Allah mengetahui jumlah dedaunan yang berjatuhan dari setiap pohon yang ada di bumi, dan semuanya ini diketahui pada saat bersamaan. Dia mengetahui secara rinci miliaran bintang dalam miliaran galaksi di jagat raya, dan seluruh hal lain yang takkan pernah mampu kita sebutkan di sini.
Tuhan kita mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di ruang angkasa. Dia mengetahui kode-kode genetik seluruh miliaran manusia, hewan dan tumbuhan di dunia. Dalam sebuah ayat Al Qur’an Allah berfirman :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al An’aam, 6:59)
Satu hal sangat penting jangan pernah kita lupakan: Selain dari semua yang telah kita sebutkan, Allah juga mengetahui isi hati manusia. Dia memahami apa yang terlintas dalam benak setiap manusia, dan segala sesuatu yang dikerjakannya, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Manusia mengira hanya mereka sendirilah yang tahu seluruh perasaan, pikiran, dan kecemasan yang mereka rasakan. Ini adalah kesalahan besar. Seperti pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu di alam semesta, Allah pun mengetahui apa yang ada di luar dalam diri manusia.

Read More
Rabu, 15 Mei 2013
KAUM SABA DAN BANJIR ‘ARIM

KAUM SABA DAN BANJIR ‘ARIM


Saba yang dibangun di selatan jazirah Arab pada abad ke-11 sebelum masehi, adalah sebuah peradaban besar. Al Qur’an memaparkan kisah Ratu Saba dan Nabi Sulaiman secara amat rinci. Namun, terdapat kisah lain dalam Al Qur’an tentang kaum ini, yakni perihal kehancuran dahsyat mereka. 

Naskah tertua yang menyatakan keberadaan Kaum Saba adalah catatan tahunan peperangan dari zaman raja Assyria, Sargon II. Menurut prasasti ini, Sargon menyebut Saba sebagai salah satu negeri yang membayar upeti padanya. Ini adalah catatan tertua yang secara pasti memberitakan adanya negeri Saba. Catatan kuno yang memberitakan kaum Saba menyatakan bahwa, sama halnya dengan bangsa Phunisia, mereka adalah negeri yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaan mereka. Penduduk Saba terkenal dalam sejarah sebagai bangsa berperadaban. Prasasti dari para penguasa Saba seringkali berbicara tentang "perbaikan", "pembiayaan", "pembangunan". 

Bendungan Ma'rib, yang reruntuhannya masih tersisa hingga kini, adalah bukti penting kemajuan teknologi kaum Saba. Berkat bendungan ini, sebuah negeri hijau terhampar di tengah gurun pasir. Ibukotanya, Ma'rib, diuntungkan oleh bendungan ini, dan menjadi makmur karena berbagai keuntungan geografisnya. Kota ini terletak dekat sungai Adhanah. Kaum Saba memanfaatkan letak ini dengan mendirikan bendungan seiring dengan pembangunan peradaban mereka, dan mulai mengairi wilayah tersebut. Pertanian menjadi makmur dan mereka pun menikmati kesejahteraan hidup yang tinggi. 

Ibukota Ma'rib adalah salah satu kota terindah di zamannya. Penulis Yunani, Pliny, yang berkunjung dan sangat memuji negeri ini, mengatakan dalam karyanya tentang hijaunya negeri tersebut. Bendungan di Ma'rib berketinggian 16 meter dengan lebar 60 meter, dan panjang 620 meter. Perhitungan menunjukkan; dua dataran luas di kedua sisi kota mampu diairi bendungan tersebut. Kedua dataran ini terkadang digambarkan dalam prasasti bangsa Saba sebagai "Ma’rib dan dataran kembar". 

Ungkapan "Dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri " dalam Al Qur’an sangat mungkin merujuk pada perkebunan anggur dan kebun-kebun menawan di dua lembah ini. Berkat bendungan dan sarana pengairannya, daerah ini terkenal sebagai yang terbaik pengairan dan kesuburannya di Yaman. 

Ketika kita mempelajari ayat-ayat Al Qur’an berdasarkan temuan sejarah ini, kita dapati kesesuaian besar di antara keduanya. Penemuan arkeologis dan bukti sejarah benar-benar cocok dengan yang tertulis dalam Al Qur’an. Kaum tersebut mengabaikan peringatan nabi yang diutus kepada mereka, dan tidak mensyukuri nikmat Allah, akhirnya mereka dihukum dengan bencana mengerikan. Al Qur’an mengisahkan:

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba, 34:15-17)

Kaum Saba hidup di daerah sangat indah dengan perkebunan anggur dan kebun-kebun subur. Negeri Saba terletak di jalur perniagaan sehingga sangat makmur, dan menjadikannya salah satu kota terkemuka di zamannya. Yang hanya perlu dilakukan kaum Saba dalam kelapangan ini adalah "memakan rezki yang dianugerahkan Tuhan mereka dan bersyukur kepada-Nya." Tapi mereka tidak melakukannya, malahan, seperti yang dikatakan dalam sebuah ayat, "mereka berpaling dari Allah…"

Keangkuhan atas kemakmuran mereka mengakibatkan mereka merugi. Seluruh negeri diratakan oleh banjir dahsyat. Perkebunan anggur dan kebun-kebun kaum Saba tiba-tiba lenyap terbenam air. Azab yang menimpa kaum Saba dilukiskan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, "Sailul ‘Arim," atau Banjir ‘Arim. Istilah Al Qur’an ini juga mengisahkan pada kita bagaimana bencana ini terjadi. Kata "’Arim" berarti "bendungan" atau "tanggul". "Sailul ‘Arim” menjelaskan bagaimana banjir berlangsung setelah jebolnya bendungan.

Arkeolog Kristen, Werner Keller sepakat bahwa Banjir ‘Arim sesuai dengan gambaran Al Qur’an, ia menulis:

Selama 1500 tahun perkebunan rempah-rempah ini tumbuh subur di sekitar Ma’rib. Ini berlangsung sampai tahun 542 sebelum masehi—yakni saat bendungan itu jebol. Gurun pasir tandus perlahan menutupi negeri subur ini dan mengancurkan segalanya. Al Qur’an mengisahkan "Kaum Saba memiliki kebun-kebun indah dengan buah-buahan termahal yang ranum." Namun kaum tersebut berpaling dari Tuhan, sehingga Dia menghukum mereka dengan jebolnya bendungan. Setelah itu tak ada yang tumbuh di kebun-kebun negeri Saba, kecuali pohon berbuah pahit. (Werner Keller, The Bible as History, William Morrow and Company, Inc., New York, 1981, hlm. 216)

Bendungan, yang dapat dianggap sebagai sumber utama kemakmuran dan kesejahteraan Kaum Saba, juga menjadi jalan kehancuran kaum yang tak bersyukur itu. Setelah bencana Banjir ‘Arim, daerah ini berubah menjadi gurun pasir, dan bersamaan dengan lenyapnya lahan pertanian, kaum Saba kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Kaum Saba mendustakan seruan agar beriman dan bersyukur kepada Tuhan, dan mereka pun diazab. Setelah kerusakan parah akibat banjir, kaum Saba mulai bercerai-berai. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka dan mengungsi ke wilayah utara Arabia, Mekkah dan Syria. Ma'rib, yang dahulunya didiami Kaum Saba, kini hanyalah reruntuhan tak berpenghuni, dan sungguh menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan kesalahan serupa Kaum Saba.

sumber : majalah insight

Read More
Selasa, 14 Mei 2013
‘Menyulap’ Kain Kotor Menjadi Tikus

‘Menyulap’ Kain Kotor Menjadi Tikus

Bumi adalah rumah bagi kehidupan yang sangat rumit dan beraneka ragam. Jutaan jenis tumbuhan dan hewan yang berbeda hidup di bumi dengan sangat harmonis. Keharmonisan ini begitu sempurna sehingga kehidupan terus berlanjut tanpa terusik, kecuali oleh campur tangan sengaja manusia. Karena kehidupan ini terancang dan tertata sempurna, maka sudah pasti ada yang menciptakan. Dia-lah Allah, Tuhan Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dari ketiadaan; dan segala sesuatu di antara keduanya
Darwin
Teori evolusi yang dikemukakan di abad ke-19 menolak fakta penciptaan ini. Teori ini menyatakan bahwa beragam makhluk hidup di bumi bukan diciptakan Allah, melainkan muncul menjadi ada akibat proses yang dikendalikan secara penuh oleh peristiwa alam tak disengaja, atau secara kebetulan.
Pencetus teori ini adalah ilmuwan amatir ilmu alam bernama Charles Darwin. Darwin memaparkan teori ini dalam bukunya The Origin of Species, yang terbit pada tahun 1859.
Teori Darwin menyatakan bahwa semua spesies makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama, melalui perubahan bertahap sedikit demi sedikit dalam waktu lama. Darwin tidak mampu memberikan bukti meyakinkan untuk membenarkan pernyataannya ini. Bahkan ia sendiri menyadari banyak fakta penting yang dapat menggugurkan teorinya. Ia mengakui hal ini dalam bukunya pada bab berjudul “Difficulties on Theory” (Kesulitan-kesulitan Teori). Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan ilmiah di masa mendatang. Namun, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan ternyata malah mengugurkan pernyataan Darwin satu demi satu.
Asal-Usul Kehidupan
Darwin berpendapat bahwa seluruh spesies makhlukh hidup berevolusi secara bertahap dari satu nenek moyang yang sama. Tapi, bagaimana makhluk hidup pertama muncul menjadi ada?
Darwin sama sekali tidak mengulas pertanyaan ini dalam bukunya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah salah satu bantahan terbesar terhadap teorinya. Penguasaan ilmu pengetahuan yang sederhana di masanya menganggap bahwa kehidupan memiliki bentuk sangat sederhana.
Para evolusionis menyatakan bahwa makhluk hidup paling pertama yang muncul di bumi adalah sel tunggal yang terbentuk dari benda mati dengan sendirinya, secara kebetulan, dan tidak diciptakan dengan sengaja. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan, tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan, dan halilintar. Tetapi pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu kaidah paling mendasar biologi: Kehidupan hanya berasal dari kehidupan sebelumnya, yang berarti benda mati tak dapat memunculkan kehidupan.

Kepercayaan bahwa benda maati dapat memunculkan kehidupan (generatio spontanea) sebenarnya telah ada dalam bentuk kepercayaan takhayul sejak abad pertengahan. Waktu itu, sejumlah percobaan dilakukan untuk membuktikan teori ini. Segenggam gandum diletakkan pada kain kotor dengan harapan tikus akan muncul darinya. Belatung pada daging juga dijadikan bukti bahwa kehidupan dapat muncul dari benda tak hidup. Tapi di kemudian hari diketahui bahwa belatung tidak dapat muncul dengan sendirinya melainkan berasal dari larva tidak kasat mata yang diletakkan lalat pada daging. Dan di masa Darwin, kepercayaan bahwa mikroba mudah terbentuk dari benda tak hidup sangatlah umum.
Pasteur
Tetapi, lima tahun setelah penerbitan buku The Origin of Species, ilmuwan biologi Prancis terkenal Louis Pasteur secara ilmiah menggugurkan mitos yang meletakkan dasar bagi teori evolusi ini. Setelah pengkajian dan penelitian panjang, Pasteur akhirnya sampai pada kesimpulan yang sangat penting ini: “Mampukah materi melakukan pembentukan sendiri? Tidak, saat ini tidak ada kondisi yang pernah diketahui, yang dengannya seseorang dapat membuktikan bahwa makhluk-makhluk mikroskopis telah terbentuk di bumi tanpa induk yang menyerupai mereka”.


Read More
Senin, 13 Mei 2013
Si Mungil Ahli Pemotong Daun

Si Mungil Ahli Pemotong Daun


Adik-adik, tahukah kalian bahwa ada jenis semut yang bercocok tanam dengan menumbuhkan jamur di sarangnya? Yah mereka inilah semut-semut petani jamur. Mereka menanam jamur untuk makanan mereka. Mereka menggunakan dedaunan tumbuhan yang telah mereka potong-potong sebagai media penumbuh jamur.
Namun, tahukah kalian, bagaimana semut-semut ini memotong dedaunan? Ternyata semut memiliki peralatan khusus dan sangat ahli dalam memotong dedaunan, bahkan ranting pohon! 

Bila ukuran semut dibandingkan dengan manusia, besarnya dedaunan yang mereka potong layaknya selembar papan berat atau sebuah batang pokok pohon. Kita menggunakan peralatan khusus untuk menebang pohon, dengan gergaji mesin misalnya. Tapi, bagaimana semut melakukannya? Jawabannya lagi-lagi menunjukkan keajaiban penciptaan. Allah telah memberi semut seperangkat alat potong yang merupakan keajaiban desain.

Perangkat pemotongan terdiri atas dua bilah pisau. Pisau tersebut terbalut lapisan seng yang menjadikannya sangat tajam. Cara pemotongannya sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.
Desain pada perangkat ini sangatlah canggih. Marilah kita teliti struktur perangkat tersebut. Melapisi pisau logam dengan logam campuran agar lebih tajam adalah teknik yang dipakai manusia. Tapi manusia yang melakukannya memiliki akal dan kecerdasan, dan perangkat teknologi yang dikembangkannya adalah hasil penelitian khusus di laboratorium .
Tapi semut tak pernah tahu jika ada bahan baku yang bernama seng. Tidak juga mereka tahu bahwa pisaunya terbalut lapisan seng. Sel-sel perangkat pemotong pada semut dengan ajaib membungkus pisau tersebut dengan lapisan seng. Terdapat perancangan maha cerdas pada tubuh makhluk mungil ini.
Hal yang sama berlaku pula pada perangkat yang menjadikan daun lebih mudah dipotong dengan menggunakan gelombang suara. Semut sama sekali tidak tahu bahwa frekuensi tinggi akan menjadikan benda lebih rapuh. Tak ada keraguan bahwa perangkat rumit secanggih ini tidaklah mungkin ada dengan sendirinya secara kebetulan. Hanya ada satu penjelasan bagi keberadaan perangkat yang sempurna ini. Perangkat ini sengaja diciptakan. Semut telah diciptakan oleh Allah; dan teknik pemotongan daun serta segala keahlian mereka yang lain adalah pemberian-Nya. Hal ini dinyatakan dalam ayat Alquran:
“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (QS. Al An’aam, 6:80)

sumber : majalah Insight


Read More
Copyright © 2012 Berita Media Headline All Right Reserved
Designed by CBTblogger